Sekilas Tentang Saya

Rabu, 27 November 2013

TRIK Setting Symbian to Haeck

Assalamu 'alaikum Wr. Wb. sobat Noenk smua,,,
hari ini saya ingin berbagi trik ngoprek hp symbian karena saya sudah sukses slama 1 tahun gratis berselancar dan sedot kapasitas gajah via Hp E63 saya..
berikut langkah-langkahnya..
"Pertama instal aplikasi di bawah ini :
1.
python
2.scripshell
3. modulepack
4. miso
5. cheexy
awas!!! jangan ada satu pun yang gak terinstal app python di atas harus semuanya terinstal diponseldan harus disimpen di drive yang sama,
- kalau di C=mem0ri hp ya harus di C=memori hp semua,
- kalau di E=memori kartu ya harus di E=memori kartusemua. Langkah selanjutnya :
1. Lakukan setingan diponsel dengan membuat jalur askes/konfigurasi baru, biar nggak ketuker jalur akses yang khusus buat pakai cheexy, misal kartu XL :
> XL-GPRS ubah aja jadi
> XL-GPRS+CHEEXY atau terserah sesuai selera, itu kan cuma nama jalur akses hehehe..
Setting APN, username, pasword, dan sebagainya disamakan sepertijalur akses standard.
Hanya saja yang dirubah :
Proxy = 127.0.0.1
Port = 123 (dapat dirubah)
2. Kemudian kamu buka aplikasi cheexy dan lakukan Settingan pada cheexy sebagai berikut :
a. Klik pilihan/option> Setting> General> log mode : setingan ubah menjadi no log (ini supaya tidak membebani ram), kemudian simpan/save
b. Klik pilihan/option> Setting> Connection>
- Listen to port 123
- Http proxy host : dan ubah (proxy provider), misal proxy XL : (202.152.240.050) kemudian kebawah
- Http proxy port : (port provider), misal port XL : 8080
- Default acces point : setting di ask user biar kita bisa pilih-pilih jalur akses nantinya atau bisa juga langsung menandai mana yang sesuai dengan operator kamu yang sebelumnya sudah dirubah pr0xy server dan port nya.
- Shadow connection every (sec) :10 (set aja 10 atau bisa diubah juga sesuai keinginan), Kemudian klik simpan/Save
c. Klik pilihan/option> Setting> Tweaks Di tweaks ini adalah tempat settingan query.
- Override port(s) for: All (set di All atau bisa juga diubah)
- Url prefix = ini sama seperti Front Query dan bisa seting trick sesuai trik operator masing-masing.
- Url Suffix = ini sama seperti Back Query dan bisa seting trick sesuai operator masing-masing.
- kalau udah diseting kemudian simpan/Save
* SETTINGAN PADA APLIKASI LAINNYA:
- Khusus untuk s60v2 FP1 os7 misal hp 6600,3230,7610 dll di aplikasi javanya misal aplikasi opmin handler.
Ini harus selalu menggunakan query 127.0.0.1:123/curl?Hal ini dilakukanagar aplikasi dapat konek ke aplikasi cheexy, karena s60v2 FP1os7 belum mendukung JSR-75.
- untuk aplikasi yang tidak bisa membaca proxy port di p0nsel, maka proxy port di aplikasi tersebut harus diubah atau diseting lagi. Contohnya diaplikasi Ucweb symbian. Ubah proxy port menjadi 127.0.0.1:123
- dan Untuk p0nsel yang sudah mendukung JSR-75 misalnya di hp s60 os8 seperti n70, n72, maka setingan di aplikasi javanya misal di opmin handler. Ini tidak usah di edit lagi.
* Setelah selesai semua setingan di jalur akses hp, di aplikasi cheexy dan aplikasi browser lainnya misal opmin handler, maka siap menjalankan trick:
- buka aplikasi cheexy kemudian koneksikan dengan jalur akses yang di edit tadi yaitu jalur aksesyang sudah di edit proxy server dan port nya tadi.
- kalau aplikasi cheexy sukses koneksi, biarkan aplikasi online terus dan jangan di exit, kemudian silahkan buka aplikasi browser lainya misal opmin handler dan seting sesuai trick operator masing-masing.
Selamat mencoba dan bersabarlah.. !!!

Selasa, 26 November 2013

Falsafah Ibnu Miskawaih

BAB I
PENDAHULUAN

Akal  merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang paling istimewa bagi manusia. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan di bawah sejak lahir karena  manusia ketika dilahirkan belum mengetahui apa-apa. Dua sumber pengetahuan  yang diperoleh  manusia, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu dan pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra.
Demikian halnya Ibnu Miskawaih seorang anak manusia yang tumbuh berkembang seperti manusia lainnya, mencari kebenaran baik melaui penelitian , pelatihan untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan dari pengalaman ia berinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Sehingga dalam berbagai literaturnya ia juga menulis tentang kajian kedokteran, Sejarah, Bahasa dll. Sehingga Ibnu Miskawaih tumbuh menjadi seorang filosof Muslim yang termaktub dalam sejarah pemikiran islam. Ia memiliki tempat dalam sejarah pemikiran.
Ibnu Miskawaih hidup di tengah-tengah situasi masyarakat yang memprihatinkan, Kehidupan lingkungannya yang diwarnai praktek-praktek amoral seperti perzinahan, perjudian, perkosaan, penganiayaan dll. Keadaan ini menjadi alasan Ibnu Miskawaih untuk lebih berkonstrasi mengkaji ilmu yang menyangkut etika atau moral manusia karena dengan moral yang baik akan tercipta suasana masyarakat yang damai dan bersahaja.





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Biografi Ibn Miskawaih
Nama lengkap Ibn  Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibn Muhammad ibn ya’qub ibn miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, Iran pada tahun 330 H/ 941 M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 shafar 421 H / 16 februari 1030M. Sejarah hidup tokoh ini tidak banyak diketahui banyak orang, para penulis dalam berbagai literature tidak mengungkapkan biografinya secara rinci.[1]
Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan bahwa Ibn Miskawaih  belajar sejarah terutama Tharikh Al-Tabhari kepada Abu Bakar Ibn Kamil Al- Qadhi dan belajar filsafat pada Ibn al-Khammar, mufasir kenamaan karya-karya Aristoteles. Ada diantara penulis yang mengatakan bahwa Ibn Miskawaih sebelum masuk islam  beragama majusi. Kredibilitas statemen ini perlu diragukan, karena dilihat dari namanya, Muhammad, menunjukkan nama orang muslim. Agaknya benar yang dikemukakan Abdurrahman Badawi bahwa statemen ini lebih tepat ditujukan kepada bapaknya. Ibn Miskawaih seorang penganut syiah. Indikasi ini didasarkan pada pengabdiaannya kepada Sulthan dan Wazir-wazir syiah dalam masa pemerintahan Bani Buwaih (320-448H). Ketika Sulthan Ahmad ‘Adhud Daulah memegang tumpuk pemerintahan, ia menduduki jabatan yang penting, seperi diangkat menjadi Khazin, Penjaga perpustakaan yang besar dan bendahara negara.
B.     Karya Ibn Miskawaih
Ibn Miskawaih tidak hanya dikenal sebagai seorang Pemikir, tetapi ia juga seorang penulis yang Produktif. Dalam buku The History of the  Muslim Philosophy, disebutkan beberapa karya tulisnya, yaitu:
1.      Al-Fauz al-Akbar
2.      Al-Fauz al-Asghar
3.      Tajarib al-Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 369 H/979 M)
4.      Uns al-Farid (koleksi anekdot, sya’ir, pribahasa, dan kata-kata hikmah)
5.      Tartib al-Sa’adah (tentang akhlak dan politik)
6.      Al-Mustaufa (sya’ir-sya’ir pilihan)
7.      Jawida Khirad (koleksi ungkapan bijak)
8.      Al-Jami’
9.      Al-Syi’ar (tentang tingkahlaku kehidupan)
10.  On The Simple Drugs (tentang kedokteran)
11.  On The Composition of the Bajats (seni memasak)
12.  Kitab al-Asyribah (tentang minuman)
13.  Tahdzib al-Akhlak (tentang akhlak)
14.  Risalah fi al-Lazzah wa al-Alam fi Jauhar al-Nafs
15.  Ajwibah wa As’ilah fi al-Nafs wa al-‘Aql
16.  Al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalats
17.  Risalah fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqah al-‘Aql, dan
18.  Thaharah al-Nafs

C.     Pemikiran Ibn Miskawaih
1.         Tentang Ketuhanan
Tuhan, menurut Miskawaih adalah zat yang tidak berjism, azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkanNya. Tampaknya pemikiran Ibn Miskawaih sama denagan pemikiran al-Farabi dan Al-Kindi. Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negative dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, prograsi positif. Alasannya prograsi posotif akan menyamakan Tuhan dengan alam. Segala sesuatu di alam ini ada gerakan.
Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula. Bukti tentang adanya Tuhan pencipta alam. Pendapat ini berdasarkan pada pemikiran Aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula. Ibnu Miskawaih mengatakan, alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada, karena penciptaan yang sudah ada bahan sebelumnya tidak ada artinya. Disinilah letak persamaan pemikirannya dengan Al-Kindi dan berbeda dengan Al-Farabi bahwa Allah menciptakan alam dari sesuatu yuang sudah ada.
2.         Tentang Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi, Ibn Miskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun Emanasinya berbeda dengan Al-Farabi. Menurut entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif. Akal aktif ini tanpa perantara apapun. Ia kadim, Sempurna  dan tak berubah. Dari akal inilah  timbul jiwa dengan perantaraan jiwa pula timbulah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus menerus dari Allah  dapat memelihara tatanan di dalam alam ini. Andaikan Allah menahan Pancaran-Nya, maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan perbedaan emanasi antara Ibn Miskawah dan Al-Farabi sebagai berikut.
a.       Bagi Ibn Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara emanasi dari tidak menjadi ada. Sementara itu menurut Al-Farabi alam dijadikan Tuhan secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
b.      Bagi Ibn Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif. Sementara itu, bagi Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.
Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa dalam masalah pokok Ibn Miskawaih sejalan dengan pemikiran guru kedua, Al-Farabi akan tetapi, dalam penyelesaian  masalah ini lebh cenderung kepada Al-Kindi dan Teolog Muslim.

3.         Tentang Jiwa
Jiwa, menurut Ibn Miskawaih adalah jauhar rohani yang tidak hancur  dengan sebab kematian jasad. Ia adalah satu kesatuan  yang tidak dapat terbagi bagi. Ia akan hidup selalu ia tidak dapat diraba dengan panca indra karena ia bukan jism dan bagian dari jism. Jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan mengetahui aktivitasnya.[2]
Dalam kesempatan lain, Ibn Miskawaih juga membedakan antara pengetahuan jiwa dan pengetahuan panca indra. Secara tegas menyatakan bahwa panca indra tidak dapat menangkap selain apa yang dapat diraba atau diindra. Sementara jiwa dapat menangkap apa yang dapat ditangkap panca indra, yakni dapat diraba  dan juga tidak dapat diraba. Tentang balasan akhirat, sebagaimana Al-Farabi, Ibn Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima  balasan di akhirat. Karena, menurutnya kelezatan jasmaniyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.
4.         Tentang Akhlak
Ibn Miskawaih seorang moralis yang terkenal hampir setiap pembahasan akhlak dalam islam, filsafat ini selalu dapat perhatian utama, keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran islam dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat yunani dan Persia yang dimaksud sumber pelengkap dalah sumber lain baru diambil jika sejalan dengan ajaran islam dan sebaliknya ia tolak, jika tidak demikian.[3]
Akhak menurut konsep Ibn Miskawaih ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.
Berdasarkan ide di atas, secara tidak langsung Ibn Miskawaih menolak pandangan orang-orang yunani yang mengatakan  bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibn Miskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan dan latihan latihan. Pemikiran seperti ini sejalan dengan pemikiran dan ajaran islam karena  secara  eksplisit telah mengisyaratkan ke arah ini  dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia. Karena kebenaran ini tidak dapat dibantah sedangkan sifat binatang saja bisa berubah jadi liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Ibn Miskawaih juga menjelaskan sifat-sifat yang utama, sifat-sifat ini, menurutnya, erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya: daya marah, daya berfikir, dan daya keinginan. Sifat Hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berfikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang tinbul dari jiwa hilm, sementara Murah adalah sifat utama pada jiwa keinginan lahir dari iffah. Dengan demikian  ada tiga sifat utama yaitu hikmah, berani dan murah. Apabila  ketiga sifat utama ini serasi, muncul sifat utama yang keempat, yakni adil.
Dalam kitab Al-akhlak Ibn Miskawaih juga memaparkan kebahagian, menurutnya meliputi jasmani dan rohani. Pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat Plato dan Aristoteles. Menurut plato kebahagian yang sebenarnya adalah kebahagian rohani. Hal ini dapat diperoleh manusia apabila rohaniyah telah berpisah dengan jasadnya. Dengan redaksi lain selama rohaniyah masih  terikat pada jasadnya, yang selalu menghalanginya mencara hikmah, kebahagiaan dimaksud tidak akan tercapai. Sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagian dapat dicapai dalam kehidupan di dunia ini, namun kebahagian tersebut berbeda di antara manusia, seperti orang miskin kebahagiaannya  adalah kekayaan, yang sakit pada kesehatan dan lainnya.
Uraian di atas dapat dijadikan bukti-bukti bahwa pemikiran Ibn Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran islam. Sementara gabungan pendapat Plato dan Aristoteles merupakan  pemikiran pelengkap yang ia terima karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
5.          Tentang Kenabian
Sebagaimana Al-Farabi, Ibn Miskawaih juga Menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah. Usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan filosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu. Menurut Ibn Miskawaih, nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat-hakikat kebenaran  seperti ini juga  diperoleh oleh para filosof. Perbedaannya hanya terletak pada teknik memperolehnya.[4]
Filosof mendapatkan kebenaran tersebut dari bawah ke atas  dari daya indrawi menaik ke daya khayal dan menaik lagi ke daya fikir yang dapat berhubungan dan menangkap kebenaran  dari akal aktif. Sementara itu  nabi mendapatkan kebenaran  diturunkan dari atas ke bawah, yakni dari akal aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah.
Penjelasan di atas dapat dijadikan petunjuk bahwa bahwa Ibn Miskawaih berusaha merekonsiliasi antara agama dan filsafat dan keduanya mesti cocok dan serasi, karena sumber keduanya sama. Justru itulah filosof adalah orang yang paling cepat menerima  dan mempercayai apa yang dibawa oleh nabi karena nabi membawa ajaran yang tidak bertolak pada akal fikiran manusia. Namun demikian, tidak berarti manusia tidak membutuhkan nabi karena dengan perantaraan nabi  dan wahyulah manusia dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat yang dapat menbawa manusia kepada kebahagian. Ajaran ini tidak dapat dipelajari oleh manusia  kecuali para pilosof, dengan kata lain  sangat sedikit kuantitas manusia  yang dapat mencapainya. Hal ini karena filsafat tidak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.







BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan  beberapa poin penting sebagai berikut :
  1. Pemikiran  Filsafat Ibn Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran Islam , sementara gabungan pendapat Plato dan Aristoteles merupakan pemikiran pelengkap yang ia terima selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
  2. Ibn Miskawaih diberi julukan  sebagai Bapak Filosof Akhlak sebab Objek kajiaannya lebih menitikberatkan pada masalah Moralitas.
  3. Ibn Miskawaih  mengatakan bahwa kebahagiaan manusia meliputi kebahagian jasmani dan rohani.










DAFTAR PUSTAKA

Daud, Ahmad. 1984. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hanafi, Ahmad. 1991. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Zar, Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hasyim Nasution. 2002. Filsafat Islam. Jakarta: Radar Jaya Jakarta.




[1] Ahmad Daud, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).
[2] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1991).
[3] Hasyim Nasution. Filsafat Islam, (Jakarta: Radar Jaya Jakarta, 2002)
[4] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004)