Sekilas Tentang Saya

Kamis, 07 Maret 2013

Relasi Materi Kuliah Filsafat Umum dengan Kehidupan Sekitar


Relasi Materi Kuliah Filsafat Umum dengan Kehidupan Sekitar
(Demonstrasi Mahasiswa Pancasila Nasional Sebagai Objek Ontologis)

Demonstrasi merupakan salah satu dari beragam cara agar dapat tersalurnya aspirasi rakyat pada konstitusi negara. Demonstrasi terklasifikasi menjadi 2 macam, yakni : Demonstrasi langsung yaitu kegiatan penyaluran aspirasi secara langsung melalui tindakan, aksi dan kehadiran langsung, sedangkan demonstrasi tidak langsung ialah kegiatan penyaluran aspirasi melalui berbagai media.
Bandung- Aksi teaterikal dengan membawa jeriken bahan bakar menjadi bagian dari demonstrasi yang dilakukan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Pancasila Nasional saat menggelar aksi menolak rencana kenaikan harga BBM di Jalan Diponegoro, Bandung, Jabar, Rabu(7/3).
Dalam contoh kejadian tersebut kita tidak boleh menarik kesimpulan hanya sebatas apriori semata, Bahwa demonstran menolak rencana kenaikan BBM, fenomena tersebut akan saya intepretasi secara filosofis.
Ø  Metafisika, Sesuatu dapat dikatakan ada secara ontologis ketika sesuatu itu dapat dibicarakan, dirasakan, dipikirkan dan dapat diamati secara empiris menggunakan alat indera[1]. Kejadian tersebut dikategorikan sebagai Fenomena yang mana  dapat dijelaskan secara filosofis dengan cara menganggapnya sebagai objek, sedangkan saya, pengkaji fenomena, bertindak sebagai subjek yang secara kritismenguji dan memahami suatu fenomena menurut keberadaannya dalam konteks ruang dan waktu. Metafisika merupakan suatu penjelasan tentang being yang tersembunyi di balik yang ada secara secara fisik. Fenomena tersebut merupakan objek material, fenomena tersebut benar – benar ada, pernah terjadi dan dapat diverifikasi kebenarannya melalui bukti – bukti empiris berupa dokumentasi aksi atau wawancara sehinggga pada akhirnya dapat ditemukan motif dilakukannya demonstrasi adalah problem sosial – ekonomi dengan tantangan krisis global.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bernilai positif jika, Seyogiyanya (relevan) masyarakat dapat mengetahui hakikat dari keberadaan sebenarnya yang tengah terjadi melalui kajian secara ontologis.


       [1] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius,1988), h. 154

Tidak ada komentar: