Sekilas Tentang Saya

Rabu, 20 Maret 2013

Metode Resitasi



PEMBAHASAN


A.    Pengertian Metode Resitasi
Pemberian tugas atau resitasi berasal dari bahasa Inggris to cite yang artinya mengutip (re = kembali), yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya.[1] 
Metode ini lebih dikenal dengan sebutan pekerjaan rumah (PR), padahal pelaksanaannya bukan hanya di rumah, bisa saja seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk mengerjakan sebuah tugas di laboratorium, perpustakaan, masjid/musholla dan lainnya. Tergantung jenis tugas yang diberikan.
Dengan kata lain metode resitasi dimaksudkan; yaitu guru menyajikan bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran. Dalam pelaksanaannya metode resitasi bukan saja hanya dilakukan oleh siswa di rumah, akan tetapi pemberian tugas (resitasi) dapat dikerjakan/laksanakan di sekolah/halaman sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain tempat. Biasanya, metode ini dilakukan apabila guru mengharapkan pengetahuan yang diterima siswa lebih mantap dan mengaktifkan mereka dalam mencari atau mempelajari suatu masalah dengan lebih banyak membaca, mengerjakan sesuatu secara langsung.[2]
Tugas dapat diberikan dalam bentuk daftar sejumlah pertanyaan mengenai mata pelajaran tertentu atau satu perintah yang harus dibahas dengan diskusi atau perlu dicari uraiannya pada buku pelajaran. Dapat juga berupa tugas tertulis atau juga tugas lisan yang lain, dapat ditugaskan untuk mengumpulkan sesuatu , membuat sesuatu, mengadakan observasi terhadap sesuatu dan bisa juga melakukan eksperimen. [3]

B.     Fase-Fase Resitasi
Metode resitasi mempunyai tiga fase :
a.       Fase pemberian tugas. Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan : tujuan yang akan dicapai, jenis tugas, tugas sesuai dengan kemampuan murid, sediakan waktu yang cukup dan ada sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
b.      Fase pelaksanaan tugas. Fase ini siswa diberikan bimbingan dan pengawasan oleh guru dan diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja, diusahakan dikerjakan sendiri oleh siswa tidak menyuru orang lain.
c.       Fase pertanggungjawaban tugas. Resitasi itu juga akan wajar apabila sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. [4] Hal yang harus dilakukan pada fase ini : laporan siswa, ada tanya jawab atau diskusi kelas, dan penilaian hasil tugas siswa.

C.    Macam-Macam type tugas :
Ada bermacam-macam type tugas, antara lain :
a.       Tugas dari buku teks
b.      Tugas dari koran, dan majalah.
c.       Tugas eksperimen
d.      Tugas melaksanakan praktek
e.       Tugas melaksanakan proyek[5]

D.    Kelebihan Metode Resitasi
Adapun keunggulan dari metode ini adalah
1.      Hasil pelajaran lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa.
2.      Siswa belajar dan mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri.
3.      Memberikan kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar.
4.      Dapat mempraktekkan hasil teori atau konsep dalam kehidupan nyata atau masyarakat.
5.      Dapat memperdalam pengetahuan siswa dengan spesialis tertentu.
6.      Dapat dilaksanakan dalam berbagai bidang studi.
7.      Siswa menjadi aktif dan bertanggung jawab.
8.      Mendorong anak-anak supaya suka berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan.
9.      Sangat berguna untuk mengisi kekosongan waktu agar siswa dapat melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif.
E.     Kelemahan Metode Resitasi
Sedangkan kelemahan metode ini adalah:
1.      Siswa dapat melakukan penipuan seperti tugas tersebut dikerjakan oleh orang lain atau menjiplak karya orang lain.
2.      Bila tugas diberikan terlalu banyak, siswa dapat mengalami kejenuhan atau kesukaran yang berakibat ketenangan batin siswa terganggu.
3.      Sukar memberikan tugas yang dapat memenuhi sifat perbedaan individu dan minat dari masing-masing siswa dan murid suka menyalin pekerjaan teman.[6]
4.      Pemberian tugas cenderung memakan waktu dan tenaga serta biaya yang cukup berarti.
5.      Kadang-kadang murid menyalin atau meniru pekerjaan  temannya sehingga pengalamannya sendiri tidak ada.
6.      Bila tugas terlalu sering dilakukan oleh murid akan menyebabkan :
-. Tergannggunya kesehatan murid, karena mereka kembali dari sekolah selalu melakukan tugas, sehingga waktu bermain tidak ada.
-. Menyebabkan murid – murid asal mengerjakan saja karena mereka menganggap tugas-tugas tersebut membosankan. [7]

F.     Cara-cara Mengantisipasi
Dari kelemahan-kelemahan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan seorang guru guna meminimalisir kelemahan-kelemahan dari metode resitasi guna tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
1.      Merencanakan resitasi dengan matang.
2.      Tugas yang diberikan hendaklah sesuai dengan kemampuan peserta didik.
3.      Tugas yang diberikan sesuai dengan materi pelajaran yang telah diberikan.
4.      Jenis tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya telah dimengerti betul oleh siswa, agar tugas dapat dilaksanakan secara baik.
5.      Jika tugas yang diberikan bersifat tugas kelompok maka pembagian tugas (materi tugas) harus diarahkan, termasuk batas waktu penyeselaiannya.
6.      Guru dapat membantu penyediaan alat dan sarana yang diperlukan dalam pemberian tugas.
7.      Mengoreksi dan memberi nilai terhadap tugas yang dikerjakan oleh siswa guna memberi rangsangan atau dorongan.
8.      Perkembangan nilai prestasi siswa-siswa perlu dicatat pada buku catatan nilai guru agar diketahui grafik belajar mereka.
9.      Tugas yang diberikan dapat merangsang perhatian siswa.[8]
G.    Langkah-langkah yang Perlu Diperhatikan
Kendati teknik resitasi dapat ini baik digunakan, tetapi jangan terlalu sering dibeerikan agar tidak terlalu menyita waktu siswa, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan siswa secara wajar.
Sebab itu, dalam pelaksanaan teknik resitasi perlu memperhatikan langkah – langkah sebagai berikut:
Pertama : Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan.
Kedua    : Pertimbangkan betul – betul apakah pemilihan teknik resitasi   itu telah tepat dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Ketiga    : Merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti. Namun sebelumnya, guru perlu mendalami alasan-alasannya dalam memberi tugas itu, perlu tidaknya,bermanfaat atau tidak bagi siswa. Perlu dipertimbangkan pula penggunaan teknik resitasi itu apakah tugas-tugas itu wajar diberikan dan tidak memberatkan siswa? Apakah selama mengerjakan tugas, siswa dapat mengerjakan tugas, siswa dapat belajar seperti biasa dan dapat melaksanakan pengawasan dengan baik? Apakah ada kemungkinan dapat mengganggu siswa?
Keempat : menetapkan bentuk resitasi yang akan dilaksanakan, sehingga siswa pasti mengerjakannya, karena bentuknya telah pasti. Untuk hal ini, guru perlu memahami bentuk-bentuk resitasi yang mungkin dapat digunakan, sehingga dapat dapat memilih dengan tepat serta meneliti apakah kemungkinan tidak lanjut setelah menggunakan teknik resitasi?
Kelima  : Menyiapkan alat evaluasi, sehingga setelah resitasi selesai dilaporkan di depan kelas atau didiskusikan atau untuk tanya jawab, guru segera bisa mengevaluasi hasil kerja siswa itu. [9]


[1] Drs. H. Tayar Yusuf, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, )Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995 ),h.67
[2] M. Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, ( Jakarta : Ciputat Pers,2002 ),h.47

[3] H. Abu ahmadi, Strategi belajar Mengajar, ( Jakarta : CV. Pustaka Setia, 2002 ),h. 135

[4] Ramayulis, Metodologi  Pengajaran  Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 1994),cet.Ke-2,h. 161
[5] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002 ),h. 166

[6] Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, ( Surabaya : Usaha Nasional, 1983 ),cet.Ke-8,h. 86
[7] Ramayulis, Metodologi  Pengajaran  Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 1994),cet.Ke-2,h. 162
[8] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002 ),h. 166

[9] Dra. Roestiyah,  Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta : Bina Aksara, 1989 ),h. 136

Tidak ada komentar: